Langsung ke konten utama

Marilah Menuju Kemenangan

Sumber gambar : dekoruma.com

Umat Islam dalam sehari-semalam minimal paling tidak akan mendengarkan lima kali suara adzan, mulai dari Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya’, dan terakhir Shubuh. Di berbagai tempat terkadang ada yang adzan enam kali yaitu satu kali ketika jam tiga malam sebagai panggilan untuk membangunkan sholat malam, utamanya yang berada di tengah kota. Untuk yang berada di desa biasanya masih utuh yaitu lima kali adzan.

Sambung menyambung dan saling bergantian. Begitulah suara adzan. Masjid yang satu selesai adzan, kemudian dilanjutkan oleh masjid atau musholla-musholla lainnya. Menurut beberapa catatan, waktu setelah adzan sangat baik jika digunakan untuk berdoa. Ketika belum iqomah, maka berdoalah, karena itu merupakan salah satu doa yang lebih cepat diijabahi oleh-Nya.

Setelah saya merenung, paling tidak kalimat adzan tersebut mengandung makna bahwa di dalamnya akan mengantarkan manusia untuk menuju kemenangan atau kebahagiaan. Paling tidak ada empat poin di mana, siapa yang mau melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, maka akan mengantarkan menjadi manusia yang sukses.

Pertama, Allahu Akbar. Bagi saya, ini bermakna bahwa manusia harus senantiasa untuk memuji Allah. Dimana pun tempatnya, jangan lupa untuk selalu mengingat dan menyebut nama Allah. Saat sedang berdiri, duduk maupun berbaring, jangan lupa untuk selalu menyebut asma Allah. Misalnya membaca kalimat tasbih, tahmid dan tahlil. Orang Jawa mengatakan harus selalu eling lan waspada

Kedua, Asyhadu an Laailaaha illaa Allah. Bagi saya, ini bermakna bahwa manusia tidak boleh menyekutukan Allah. Dia-lah yang memberi rezeki kepada manusia dan kepada semua makhluk yang ada di muka bumi. Manusia yang seharian bekerja, kemudian mendapatkan uang, secara akal memang usaha manusia. Namun jika dipikir secara mendalam, sesungguhnya adalah bukan jerih payah manusia. Sesungguhnya adalah rahmat-Nya. Salah besar jika orang mengatakan adalah hasil karya dan jerih payahnya sendiri. Jika mengaku hasil jerih payahnya sendiri, mulai dari sekarang mindset-nya harus segera diubah.

Ketiga, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Bagi saya, ini bermakna bahwa manusia harus selalu memperbanyak membaca sholawat. Dimana pun tempatnya, jangan lupa untuk selalu membaca sholawat. Allah sendiri juga membaca sholawat kepada nabi Muhammad. Siapa yang berdoa, jangan lupa untuk selalu menyelipkan sholawat di dalamnya. Sebagian ulama sudah sepakat bahwa doa tanpa sholawat maka tidak akan (agak sulit) dikabulkan oleh-Nya.

Keempat, Hayya ‘ala al-Sholaah. Bagi saya, ini bermakna bahwa siapa yang ingin sukses (Muslim), tentu harus melalui perantaraan sholat. Sholat yang wajib dilaksanakan, yang sunnah juga jangan ditinggalkan. Jadikanlah sholat dan juga sabar sebagai penolong hidup manusia. Setelah melakukan sholat sunnah malam, kemudian berdoa kepada Tuhan atas apa yang diinginkan. Tentu, harus diimbangi dengan sifat sabar. 

Terakhir, bunyinya adalah Hayya ‘ala al-Falaah, yang berarti kemenangan. Siapa yang dapat melaksankan empat poin di atas yaitu mulai dari memuji Allah, tidak menyekutukan Allah, memperbanyak membaca sholawat nabi dan memperbanyak sholat, maka orang-orang yang seperti ini yang akan meraih kemenangan atau kebahagiaan. Selamat mencoba! Wallahu a’lam. 

Salatiga, 6 September 2018

Komentar

Artikel Populer

Internet dan Budaya Srawung

sumber gambar: hipwee.com Gambar di atas merupakan contoh bagaimana yang seharusnya kita lakukan saat ini. Selain degradasi moral yang semakin menurun, sikap individualisme di dalam masyarakat tampaknya juga sudah semakin meningkat. Kalau dulu sikap seperti itu banyak dilakukan oleh orang kota, saat ini orang desa sudah banyak yang terkontaminasi. Sehingga jangan kaget umpama melihat orang desa yang sudah mulai sedikit tidak memperhatikan tetangga sekitarnya.  Saya melihat gambar seperti di atas sudah sekitar tiga kali. Dan itu semua berada di wilayah Kabupaten Semarang. Pertama di daerah Kec. Banyubiru, Pabelan dan terakhir Tuntang. Oleh karena saya ketika pergi kadang tidak membawa HP, sehingga belum sempat memotret gambar tersebut. Tidak masalah, melalui dunia maya juga sudah cukup banyak gambarnya. Dan gambar di dalam tulisan ini merupakan salah satu contohnya.  Salah satu yang menjadi faktor penyebab meredupnya budaya srawung adalah dunia maya. Dunia may...

Komentar Ilmiah

Belum lama ini, blog pribadi saya dikunci oleh akun blogger . Saya pun tidak bisa membukanya. Saya kemudian membuka alamat email. Di dalam email tersebut saya mendapat email resmi dari blogger mengenai "kesalahan" dalam menggunakan blog. Tulisan saya dianggap terlalu membuat kontroversi.  Saya pun kemudian mengirimkan email kembali kepada blogger bagaimana cara agar blog saya bisa dibuka. Tidak lama kemudian blogger mengirimkan balasan email. Intinya, agar apa yang saya tulis tidak mengandung konten-konten yang sekiranya menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.  Saya pun berterima kasih kepada blogger. Semua ada hikmahnya. Barangkali ini adalah teguran agar saya berhati-hati dalam menulis. Menulis tetap menulis, yang penting jangan terlalu membuat resah, kontroversial atau yang sekiranya membuat gaduh di dalam masyarakat.  Namun demikian, saya kadang bertanya-tanya di dalam hati. Dalam email tersebut ternyata ada seorang pembaca yang melaporkan kepada blogger mengenai t...

Saparan: Antara Orang Kaya dan Miskin

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi acara saparan di Desa Tajuk Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Pengunjungnya sangat banyak. Para pedagang juga banyak yang berlalu-lalang, ikut meramaikan acara tersebut sembari mencari uang.  Jika melihat acara saparan , paling tidak di sana terdapat beberapa kesenian daerah. Ada kuda lumping, karnaval desa, bersih desa dan lain sebagainya. Bila uangnya warga masyarakat memungkinkan, biasanya menyelenggarakan wayang kulit. Bila uangnya dalam jumlah sedikit, biasanya hanya menyelenggarakan kuda lumping atau reog lokal. Yang jelas, tradisi saparan harus tetap dijaga. Jika tidak dijaga, maka bisa jadi sejarah akan hilang. Sejarah hanya akan menjadi dongeng belaka. Sejarah akan menjadi hilang oleh karena tidak ada bekas atau tidak ada jejak fisiknya. Jika mencermati acara saparan , maka di sana antara orang miskin dan orang kaya tidak ada bedanya. Semuanya setara. Semuanya mengeluarkan makanan, yang kemudian dimakan oleh para...

Gila Disebabkan HP

sumber gambar: detiknews.com Melihat realitas zaman sekarang, yang namanya HP tentunya sudah menjadi kebutuhan. Siapa yang tidak mempunyai HP, kadang akan ketinggalan. Misalnya informasi sebuah RT, sudah cukup banyak yang menggunakan WA. Sehingga siapa yang tidak memilikinya maka akan  ketinggalan informasi.  Namun dari itu, penggunaan HP yang tidak digunakan sebagaimana mestinya tentu akan berakibat kurang baik. Yang dihati-hati saja kadang masih berakibat kurang baik, maka apalagi kalau kita tidak berhati-hati? Sadar atau tidak, bisa jadi HP adalah salah satu media yang digunakan oleh asing untuk menjajah bangsa ini.  Bila mencermati lingkungan, tampaknya anak kecil yang sering memukuli orang tuanya semakin hari semakin bertambah banyak. Hal yang seperti itu tampaknya sudah bukan merupakan hal yang tabu. Mengapa hal itu dapat terjadi? Salah satunya disebabkan karena HP android, utamanya yang berbasis  game   online .  Anak kecil zaman da...

Tradisi Mencari Batu di Sungai

sumber gambar : pixabay.com Dulu, sewaktu masih SD, saya sering diajak almarhum Bapak ke sungai. Sekembalinya dari sungai, saya disuruh membawa sebuah batu hitam yang kemudian dibawa ke rumah. Sedangkan Bapak, kadang membawa satu ember pasir, kadang pula membawa sebuah batu.  Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang lazim, yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena sudah lazim, maka menjalankannya terasa tidak begitu berat. Selain itu, antara tetangga yang satu dan lainnya pun tidak mempunyai rasa malu. Prinsip mereka hanya satu, yakni mencari pasir atau batu kali.  Saya sejak kecil sebenarnya sudah paham bahwa apa yang dilakukan oleh warga masyarakat sesungguhnya ingin membuat rumah yang terbuat dari semen dan batu kali. Maklum, ketika itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sementara untuk bagian lantai masih beralaskan tanah.  Dulu yang namanya rumah kayu merupakan hal yang biasa. Biaya pemb...